Jangan Naik Ke Atas

16 Juli 2017
Malam itu udara dingin sekali. Jeniper yang sedang berdiri di halte, mengusap-usap telapak tangannya untuk mengusir dingin. Sayup-sayup terdengar suara burung hantu di kejauhan. Jeniper mengutuk bosnya dalam hati, karena memaksanya berangkat pada jam yang sangat tidak menyenangkan ini.

Jeniper ditugaskan untuk mengantarkan sebuah paket kamera Canon Eos 650D ke sebuah gudang tua di ujung kota. Perjalanan ke sana memerlukan waktu sekitar setengah jam, dan satu-satunya jenis angkutan umum yang tersedia adalah bis bertingkat yang sudah tua dan jalannya lambat.

Setelah menunggu lama, akhirnya bis itu muncul. Jeniperpun naik. Hanya ada beberapa penumpang saja yang terlihat. Jeniper terus melangkah menuju tangga karena dia memutuskan untuk duduk di tingkat atas saja. Tetapi langkahnya dihentikan oleh seorang nenek keriput yang duduk di dekat tangga.

Nenek itu berkata: "Jangan naik ke atas, nak. Di atas berbahaya." Jeniper terkejut. Dia pernah mendengar kisah-kisah menyeramkan tentang bis bertingkat seperti yang pernah diceritakan teman-temannya. Karena Merasa ngeri, Jeniperpun mengurungkan niatnya untuk naik ke atas. Setelah memilih sebuah bangku yang agak jauh, Jeniper duduk sambil membayangkan hal-hal yang mengerikan yang mungkin terjadi.

Perjalanan 30 menit yang menegangkan itu pun akhirnya dapat dilalui. Jeniper telah sampai di tempat tujuannya, ketika bis bertingkat itu berhenti di sebuah halte. Jeniper turun sambil menarik nafas lega, sementara bis itu kembali melanjutkan perjalanannya.

***
Keesokan malamnya, Jeniper kembali ditugaskan bosnya untuk mengantarkan sebuah kamera Canon Eos 650D lagi ke gudang yang sama. Jeniperpun kembali berangkat menuju halte. Bis yang sama dengan bis yang kemarin muncul lagi. Jeniper naik.

Penumpang bis yang terlihat hanya beberapa orang saja. Jeniper lalu berjalan menuju tangga. Tetapi di sana kembali dihentikan oleh seorang nenek keriput yang duduk di dekat tangga. Nenek yang sama dengan yang kemarin.

Nenek itu berkata: "Jangan naik ke atas, nak. Di atas berbahaya." Jeniper teringat dengan pengalamannya kemarin. Ia merasa takut dan memilih untuk duduk di sebuah bangku yang agak jauh dari tangga. Setelah 30 menit, bis bertingkat itu akhirnya berhenti di halte tempat tujuan. Jeniper turun dengan perasaan lega. Dan bis itu pun melanjutkan perjalanan kembali.

***

Keesokan harinya, Jeniper kembali diberi tugas Oleh bosnya untuk mengantarkan sebuah kamera Canon Eos 650D lagi ke gudang yang sama dengan sebelumnya. Jeniper menunggu bis di halte sambil melihat ke sekelilingnya.

Ketika bis bertingkat yang ditunggunya datang, Jeniper naik. Bis itu adalah bis yang sama dengan yang kemarin. Jeniper melihat ke arah bangku di dekat tangga, dan benar saja, nenek yang sama dengan yang kemarin terlihat duduk di situ.

Jeniper lalu mendekati nenek keriput itu. Sebelum nenek itu berkata apa-apa, Jeniper mendahului bertanya: "Nek, apapun yang akan Nenek katakan, saya tetap akan naik dan duduk di atas. Saya tidak takut akan sesuatupun!"

Tanpa menunggu jawaban apa-apa dari nenek tua itu, Jeniper lalu naik ke atas. Tidak ada penumpang satu orang pun di atas. Jeniper memilih untuk duduk di dekat jendela, dan menunggu dengan perasaan tegang.

Tetapi hingga 30 menit berlalu, tidak terjadi apa-apa. Akhirnya Jeniper sampai di tempat tujuan, dan bis itu berhenti di sebuah halte. Jeniper turun dari tingkat atas dan mencari si nenek keriput didekat tangga.

Setelah bertemu, lalu Jeniper bertanya: "Nek, kenapa sih, Nenek melarang penumpang untuk naik ke atas? Saya sudah mencoba sendiri, ternyata di atas tidak ada apa-apa yang membahayakan. Sebenarnya ada apa sih, nek?"

Sambil menunjukkan jarinya ke atas, nenek keriput itu menjawab: "Di atas berbahaya, nak. Tidak ada supirnya.
Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font.
Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Random Post

Sugeng

Selamat
Hari

Have
a nice day

~mars~